Your potential is limited only by your excuses [!]

Pernah gak sih merasa menjadi orang yang sering membatasi diri sendiri? Mau melakukan seuatu, eh, merasa diri gak mampu, dan gak pede.

Ya, itu manusiawi memang, tapi jangan menyiksa diri dengan perasaan sensitive yang diciptakan sendiri.

Ibaratnya nih, kalau diri kita aja udah gak percaya dengan kemampuan diri sendiri, gimana kita bisa meyakinkan orang lain? Trus, gimana oranglain bisa percaya dengan kemampuan kita?

Cuma ngingetin aja,

You are what you think, and you are a leader of your self. Jangan sampai diri kita justru dikendalikan oleh lingkungan sekitar dan oranglain. Yap, lingkungan itu adalah virus berbahaya yang bisa menginfeksi mindset. Jadi, buatlah diri kita lebih resistant terhadap virus itu, karena yang namanya virus memiliki kemampuan berkembang biak sangat cepat.

Trus, kita harus ngapain?

Pertama, mulailah mengenali diri sendiri. Coba buat list, apa kekurangan dan kelebihan yang kamu miliki, dan terutama hal apa yang membuat kamu merasa kurang percaya diri? Temuan negative dalam diri itu sangat unik, karena ketika kita mampu mendeskripsikan kekurangan atau kelemahan kita, bisa dikatakan kita cukup memahami diri sendiri, karena setiap orang cenderung memiliki kemampuan untuk melihat sisi positif dari diri sendiri dan akan lebih mampu melihat sisi negative orang lain.

Kedua, explore hal atau cara yang membuat kamu dapat mengatasi kekurangan yang ada dalam diri kamu. Misal, seseorang merasa kurang percaya karena wawasannya kurang luas dan secara fisik dia kurang menarik di depan oranglain. Dari kekurangan itu, akan muncul pertanyaan yang lebih mengerucut, “wawasan apa yang seringkali tidak aku pahami?”, “apa yang membuat aku terlihat kurang menarik?”. Nah, dari pertanyaan itulah akan muncul solusi.

Ketiga, kumpulkan beberapa alternative solusi yang bisa dimanfaatkan untuk mengurangi rasa tidak percaya diri itu. Caranya? Banyaklah bergaul dengan orang lain, karena semakin kita bertemu banyak orang, semakin kita sering bertukar pikiran dengan orang lain akan membantu kita untuk memperluas cara pandang terhadap sesuatu. Setiap orang itu unik, dan keunikan yang bernilai positif dapat kita jadikan referensi dan diterapkan pada diri kita, sehingga kita dapat meningkatkan karakter diri.

Sekali lagi, pengendali utama adalah diri kita sendiri. Jadi, do the best for your own life, karena yang membatasi kemampuan atau potensi dalam diri kita adalah berbagai alasan yang kita buat sendiri. Be positive !

 

Advertisements

Taman Suropati Chamber

Harmonisasi Musik Klasik dan Alam

IMG_20130127_230735

Pagi itu, Minggu (13/01), saat melintasi Jalan Sunda Kelapa, samar-samar terdengar alunan musik klasik. Suara itu terdengar semakin jelas ketika kendaraan yang saya tumpangi berjalan menuju arah Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Kerumunan orang yang memadati taman menggelitik rasa penasaran saya untuk singgah sejenak dan menikmati suasana minggu pagi di taman yang terletak di pusat Ibu kota ini.

Di pintu masuk taman, berjejer beberapa pedagang kaki lima yang menjajakan makanan dengan menu beragam. Para pengunjung terlihat asik duduk di bawah pohon munggur sambil menyantap makanan dan menikmati segarnya udara pagi. Meski udara dingin sisa hujan semalam, namun Taman Suropati tetap ramai dikunjungi para remaja, anak-anak, dan keluarga.

Landscape taman tropis peninggalan arsitek Belanda PAJ Mooejen dan FJ Kubatz (1913) itu menjadi tempat memamerkan karya seni beberapa pematung dari seluruh negara ASEAN. Saya pun menemukannya ketika mengitari taman dari pintu Selatan menuju ke pintu Utara. Patung “Peace-Harmony and One” karya Lee Kian Seng dari Malaysia, “The Spirit of ASEAN” karya Wee Beng Chong dari Singapore, “Peace” karya Sunaryo dari Indonesia, “Fraternity” karya Nonthivathn Chandhanaphalin dari Thailand, “Harmony” karya Awang Hj Latirf Aspat dari Brunei Darussalam, dan “Re-birth” oleh Luis E. Yee Jr dari Philippines seakan menjadi symbol harmonisasi negara-negara ASEAN.

Harmoni ruang public ini menjadi kian terasa ketika saya dan pengunjung lainnya disuguhi alunan musik mini orchestra yang dapat dinikmati dengan gratis. “Saya suka menikmati musik klasik, setiap minggu saya selalu datang kemari bersama keluarga,” ujar seorang pengunjung taman. Pandangan saya pun tertuju pada sekelompok anak berusia sekitar 6 tahun yang sedang asik memainkan biola di salah satu sudut taman. Saya memutuskan untuk rehat sejenak dan mendengarkan instrument musik yang mereka mainkan. Telinga saya mulai menikmati lagu yang dibawakan. Tak heran, jika mereka membawa lamunan saya pada masa anak-anak dulu ketika intro lagu “Si Patokaan” didendangkan.

Belum selesai menikmati lagu “Si Patokaan”, telinga saya kembali disuguhi dengan alunan musik klasik yang terdengar dari sudut yang berbeda. Instrumen lagu Canon debutan Johann Pachelbe membuat telinga saya berpaling dan ingin menghampiri asal suara. Ternyata, bukan lagi anak-anak berusia 6 tahun yang saya lihat, melainkan remaja berusia sekitar 10 – 16 tahun yang juga asik mengalunkan beberapa instrument musik klasik. Kali ini, alat musik yang dimainkan lebih komplit, ada biola, cello, dan piano. Lagu yang dimainkan pun sepertinya memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang menyanyikan lagu “si Patokaan” tadi. Beberapa kali sang pelatih meminta anak-anak mengulangi beberapa part lagu ketika memainkan lagu Habanera. Namun, mereka terlihat sangat antusias untuk memperbaiki kesalahan yang sempat membuat alunan musik tersebut kurang nyaman didengar.

Teguran salah seorang pengunjung membuyarkan lamunan saya, setelah berbincang-bincang, akhirnya rasa penasaran saya terbayar. Taman Suropati Chamber (TSC), itulah komunitas yang telah memanjakan telinga kami pagi ini. Harmonisasi musik dan alam yang begitu indah mampu membuat pikiran melupakan sejenak beban pekerjaan. Melalui perbincangan itulah, saya bertemu dengan Agustinus Dwiharso, pencetus TSC.

Ages, nama panggilan akrab Agustinus Dwiharso mulai menceritakan bagaimana ia membentuk komunitas TSC ini. Semua berawal dari keprihatinannya terhadap dinamika Ibu kota. Jakarta memang dikenal sebagai kota yang dinamis, penuh dinamika kehidupan sosial masyarakatnya. Di tengah virus hedonisme yang disuguhkan para kaum kapitalis, masih ada masyarakat yang peduli terhadap matinya budaya daerah. “Kepedulian anak-anak di Jakarta terhadap kelestarian lagu-lagu daerah sudah mengikis. Kepedulian terhadap hal yang bersifat cinta tanah air sudah luntur. Yang saya khawatirkan adalah ketika kita tidak sadar dan tidak melawan ketika yang kita miliki diambil oleh negara lain,” ujar Ages.

Kondisi itulah yang menggugah Ages untuk turut mengimbangi arus dinamika sosial yang berkembang begitu cepat. Tahun 2007 lalu, ia membulatkan tekad untuk membangun sebuah wadah positif bagi warga ibukota yang gemar bermain musik. Mulanya, di tahun 2006, Ages sempat ke Eropa untuk menghadiri workshop musik keroncong di Den Haag. Di sana, ia melihat pertunjukan musik yang diselenggarakan di taman kota. Lantas, ia terinspirasi untuk mengadakan kegiatan serupa di Indonesia, namun dengan mengemasnya dalam bentuk latihan rutin.

Kenapa memilih Taman Suropati?

Taman Suropati dikelilingi beberapa obyek penting, seperti rumah dinas Wakil Presiden RI, rumah dinas Duta Besar Amerika Serikat, kantor gedung Bappenas, museum perumusan naskah Proklamasi dan gedung Komisi Pemilihan Umum. Ages berfikir bahwa Taman Suropati dapat menjadi tempat yang pas dan strategis untuk mengkampanyekan kegiatan positif tersebut. “Dulu, taman ini termasuk kawasan kurang aman, karena sering digunakan para pencopet beroperasi,” ujar Ages. Namun, pendekatan yang dilakukan Ages dan teman-temannya selama setengah tahun mampu merubah citra Taman Suropati menjadi kawasan yang aman untuk bersantai di akhir pekan. “Konsep yang kami usung adalah bermain musik yang rekreatif – dapat menjadi tempat rekreasi keluarga yang edukatif dan kreatif,” terangnya.

Di komunitas ini, siapapun boleh bergabung. Dulu, salah satu tujuan didirikannya TSC adalah untuk mewadahi anak-anak jalanan yang hobi bermain musik. “Siapapun yang ingin belajar musik, datanglah ke Taman Suropati dengan membawa alat musik masing-masing,” ajak pria berambut gondrong ini. TSC tidak memandang usia dan kemampuan bermusik. “Pengunjung yang tidak dapat membaca note pun akan kami pandu,” imbuhnya sembari memainkan petikan lagu autumn leaves. Uniknya, nama pengelompokan kelas yang digunakan adalah kelas bibit, akar, batang, ranting, dan dahan. Pengunjung yang tidak memahami musik harus masuk ke dalam kelas bibit sebagai pengenalan, begitu seterusnya.

Tepat pukul 10.00 pagi latihan dimulai dengan pemanasan bersama, kemudian para anggota bergabung dengan kelompok yang telah disesuaikan kemampuannya. Setiap kelompok didampingi oleh pelatih yang berpengalaman. “Disini, mental anak-anak lebih unggul dibandingkan dengan sistem latihan di dalam kelas. Udara bebas membantu merefresh pikiran mereka, sehingga hati menjadi tentram, dan mereka dapat melibatkan perasaannya dalam bermain musik,” ujar Ages.

Kegiatan positif ini pun mulai dilirik tokoh dalam negeri. Dua kali TSC tampil di istana negara sebagai pengisi acara dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional dan Parade Senja yang disaksikan langsung oleh Presidan Susilo Bambang Yudhoyono. Bahkan, tak tanggung-tanggung, komunitas bentukan Ages ini memperoleh rekor Muri sebagai rekor musik taman pertama di Indonesia.

Nyatanya, gebrakan Ages menjadi rujukan bagi musisi luar untuk menyelenggarakan kegiatan serupa di negaranya. “Kegiatan seperti ini baru ada satu di dunia, yaitu di Indonesia, karena kami menyelenggarakan secara rutin dengan sistem pendidikan yang terarah. Sedangkan, di negara lain masih sebatas penyelenggaraan yang bersifat event” kisahnya bersemangat.

Menjelang pukul 14.00, dimana waktu latihan selesai, kelompok gabungan dahan dan ranting menyuguhkan lagu rayuan pulau kelapa yang begitu indah. Bulu kuduk saya pun turut bereaksi merinding. Indah memang, ketika lagu-lagu daerah karya anak negeri dibawakan dengan hati dan cara yang elegan. “Yang penting, kita sudah memiliki penonton. Itu tolak ukur kami yang membuat semangat kami tak pernah pudar,” tegas Ages menutup perbincangan kami.

[At tachriirotul M.]

I mizz u, Jogja…

jogja

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu…
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna…
Terhanyut aku akan nostalgi, saat kita sering luangkan waktu..
Nikmati bersama, suasana Jogja…

Penggalan lagu Kla Project itu yang menemani perjalananku sore ini. Pengamen itu seakan mampu membaca pikiranku yang sedang rindu dengan Jogja. Indera pendengarku pun sangat menikmati alunan gitar yang dimainkan dengan pas olehnya. Aku mulai menghela nafas panjang, pikiranku telah melayang membayangkan kota yang sangat istimewa itu. Tak bisa kubendung lagi,

“Aku rindu…”

Sekarang aku merasakan apa yang seringkali orang katakan kalau Jogja itu ngangenin. Slogan salah satu usaha konveksi yang cukup terkenal di Jogja seakan menarikku, “Kapan ke Jogja lagi?”. Kalimat sederhana yang memiliki magnet persuasive yang begitu kuat, membuat orang yang pernah singgah ke Jogja menjadi ketagihan untuk kembali kesana.

Banyak rekaman memori yang membuatku semakin rindu. Meski Jogja bukan kota kelahiranku, namun disanalah aku melawati masa-masa pendewasaan diri sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Banyak keluarga, sahabat, dan teman-teman yang kurindukan.

Aku rindu berkumpul dengan teman-temanku, membahas segala hal, terutama tentang emansipasi wanita yang selalu aku simak ketika berkumpul dengan sahabat-sahabatku, the Ladies. Aku juga rindu berkumpul dengan teman-teman majalah Kagama untuk rapat tema dan ngobrol ngalur ngidul, meski aku seringkali kurang paham ketika mereka membicarakan politik dan kebijakan pemerintah yang membuatku hanya menyimak pembicaraan mereka dan sesekali berkomentar. Aku juga rindu dengan teman-teman seperjuanganku di bangku kuliah, teman skripsi, teman magang, meski seringkali kita hanya sekedar membicarakan kegalauan masa depan seperti calon suami, karir, dan kehidupan rumah tangga, hehe. Aku rinduuu….

Suara pengamen itu masih membuai lamunanku. Pikiranku kembali merekam tempat-tempat yang sering kudatangi dulu. Angkringan, dengan jahe susu panas, nasi kucing, gorengan, sate usus dan sate hati, yang bisa kita dapatkan dengan harga lima ribu rupiah. Semesta, tempat ngobrol paling nyenengin dengan wifi dan suasana yang bikin betah ngobrol berlama-lama disana. House of Raminten, tempat makan yang banyak maho-nya, hehe, yang setiap kesana selalu antri untuk dapat tempat duduk. Pancake Company Sagan, sering kumpul sama temen-temen skripsi, tempat nge-galau di tengah skripsi yang menjemukan. Pecel lele Prasojo, tempat Pecel lele paling recommended di dekat lembah UGM, sambal dan terongnya gak ada duanya deeh. Bakmi Jawa mbah Hadi di Terban, yang seringkali antri dan menunggu makanan dateng sampai satu jam. Bajigur di depan Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah, Nasi Bakar di Jalan Kaliurang dengan lele kremes yang super enak, Bakso Lombok uleg khas Temanggung, Ayam geprek di daerah Sanata Dharma, and many more.

Tanpa terasa, alunan musik pun mulai meredup, ucapan terimakasih yang mereka lontarkan dan tampungan uang receh yang mereka sodorkan telah sampai di depanku. Lamunanku terbuyarkan setelah uang dua ribu kuberikan kepadanya, sembari berucap “Terimakasih…”

 -atta-

 

 

 

 

Antioksidan, Antiaging yang digemari

       Tampil cantik selalu menjadi idaman setiap wanita, apalagi jika kulit terlihat sehat dan segar. Tapi, aktivitas padat yang seringkali menuntut kerja ekstra di lingkungan terbuka tetap harus dilakukan. Resikonya adalah terkena paparan radikal bebas yang memiliki efek pada kesehatan kulit. Tidak bisa dipungkiri, radikal bebas dapat menyebabkan kerusakan kulit, bahkan merupakan salah satu penyebab utama penuaan dini pada wanita dewasa yang berusia sekitar 25 tahun.

       Penuaan yang terjadi pada kulit seseorang dapat bervariasi, seperti kulit kering dan kasar, kulit kendur, dan mulai muncul bercak-bercak hitam (pigmentasi) di titik tertentu pada wajah (age spot). Selain disebabkan oleh radikal bebas, penuaan dini sangat dipengaruhi oleh faktor genetik, usia, dan pola hidup seseorang. Menjadi awet mudah memang tidak mudah, namun banyak orang mampu mencegah timbulnya tanda-tanda penuaan dini. Salah satu upaya yang sering dilakukan oleh wanita adalah mengkonsumsi suplemen antioksidan. Padahal, banyak sumber makanan seperti buah dan sayuran yang dapat memenuhi kebutuhan antioksidan tersebut.

       Antioksidan merupakan suatu agen yang dapat menghambat proses oksidasi atau proses pembakaran yang disebabkan oleh radikal bebas yang bersifat tidak stabil di dalam tubuh dan akan merusak sel-sel tubuh. Jika reaksi tersebut tidak dihentikan, maka proses metabolisme (pembentukan) sel-sel baru di dalam tubuh menjadi terhambat, sehingga jumlah sel baru yang akan menggantikan sel-sel kulit lama yang sudah rusak menjadi terbatas. Hal itu menyebabkan kulit wajah seseorang menjadi tampak rusak, lebih tua, dan tidak segar karena tidak ada yang menggantikan sel kulit yang rusak tersebut.

       Untuk itu, agen antioksidan dapat mencegah metabolisme sel-sel baru dengn cara mengikat radikal bebas tersebut agar tidak reaktif. Salah satu agen antioksidan yang banyak digunakan adalah vitamin C. Selain sebagai antioksidan, vitamin C juga dapat memicu pembentukan kolagen, karena produksi kolagen akan menurun seiring dengan pertambahan usia kita, sehingga elastisitas kulit menurun dan keriput mulai bermunculan. Penggunaan vitamin C dapat mencegah munculnya keriput pada kulit.

       Vitamin E telah dikenal di pasaran sebagai vitamin yang dapat membantu peremajaan kulit. Vitamin E merupakan antioksidan yang dapat mengikat radikal bebas yang berada di kulit, terutama yang disebabkan oleh paparan sinar ultraviolet. Turunan vitamin E yang sering digunakan adalah tokoferol. Sumber alami vitamin E banyak diperoleh dari alpukat, minyak sayur, dll. Selain kedua vitamin tersebut, pro vitamin A seperti beta karoten dapat membantu pengelupasan sel kulit mati dan mepercepat proses penyembuhan kulit, sehingga kulit menjadi lebih cerah dan lembut. Bahan alami yang mengandung banyak pro vitamin A adalah papaya, wortel, dll.

       Meningkatnya polusi di Negara tropis seperti Indonesia sejalan dengan banyaknya radikal bebas yang dapat merusak kulit kita. Untuk itu, kita harus mencegahnya dengan rutin membersihkan wajah. Bersihkan kulit 2-3 kali sehari. Gunakan pembersih kulit wajah yang mengandung antioksidan. Setelah wajah dibersihkan, gunakan toner untuk mengembalikan pH kulit akibat penggunaan sabun. Gunakan pelembab kulit yang disesuakan dengan jenis kulit masing-masing untuk mencegah kulit kering. Setelah itu, gunakan proteksi wajah seperti tabir surya atau sunblock yang dapat mengkal proses oksidasi dari sinar matahari.

       Menghindari tingkat stress yang berlebihan terhadap suatu pekerjaan dan melakukan exercise ringan secara rutin dapat membantu menghindari penuaan dini. Lakukan relaksasi untuk menenangkan pikiran dan berdialog dengannya. Pemberian nutrisi dengan memakai masker secara rutin juga akan membuat kulit tampak lebih segar. Meski penuaan merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan, tapi tanda-tanda penuaan dapat disamarkan, salah satunya dengan antioksidan. Be Fresh, Be Young !!!

[ At tachriirotul M.]

 

Kopitiam, at 21.23 WIB

Kopitiam, venue yang cukup bersahabat bagiku malam ini, yang kebetulan bernama malam minggu. Aku tak sendiri, ditemani Hot Cofee dan camilan ringan, aku merasa bebas dari kejenuhan rutinitas yang seakan terpenjara  selama lima hari ini. Inspirasi yang mengalir begitu deras, takkan aku biarkan tanpa jejak, hingga aku pun dengan lancar ingin menarikan jemariku menjadi sebuah cerita.

Jakarta, 17 November 2012

Ternyata, sudah dua bulan aku menjadi bagian dari hiruk pikuk kota ini, Jakarta. Kota yang dikatakan keras oleh sebagian besar orang, dan kota yang penuh dengan rutinitas yang menggila menurutku. Berangkat kantor pukul 4 pagi pun dilakoni, karna waktu tempuh menjadi parameter perjalanan seseorang, bukan lagi jarak tempuh.

Hmm,

Namun aku ingin menaklukkannya, mencoba melatih jemariku untuk menorehkan karya, membangun impian yang terekam sejak kecil dulu, menjadi penulis.

Aku memang tidak memiliki basic di bidang ilmu politik, budaya, sastra, atau yang lainnya. Namun, entah kenapa keinginan itu begitu keras, hingga akhirnya aku memiliki zona nyaman untuk membebaskan ide yang cukup terkungkung sejauh ini.

Bisa dibilang,

Keinginan untuk menebus waktu yang aku biarkan berlalu begitu saja ketika masih di bangku kuliah begitu kuat. Aku mulai mengerti yang Rere tulis tentang bagaimana kita harus memperjuangkan Passion.

Oh God,

Mungkin ini sangat terlambat untuk menyadarinya, aku merasa kurang nyaman di bidang Farmasi yang aku pelajari selama Lima tahun. Yaps, Lima Tahun, sampai aku betul-betul tidak menyangka aku bisa melewatinya.

Sekedar cerita masa lalu,

Dulu, aku sangat bercita-cita untuk menjadi psikolog, motivator, dan penulis. Namun, aku sudah menyerah begitu saja sebelum memperjuangkannya. Tau tidak kenapa? Karena aku enggan mempelajari ilmu sosial seperti sejarah, sosiologi, geografi, dsb, karena ilmu psikologi di UGM termasuk ke dalam kluster sosial humaniora.

Okey,

Itu tidak perlu disesali. Walau bagaimanapun juga, aku sudah terjerumus di bidang ilmu Farmasi yang cukup abstrak ini. Ketika kita mempelajari hal yang tak nampak, seperti molekul obat. Namun, ia telah melahirkanku menjadi seorang Apoteker, dan melalui sumpah itu aku tetap harus menjaga sumpahku untuk menggunakan ilmu yang dipelajari untuk tidak meracuni seseorang.

Sepertinya, malam yang semakin larut ini membuat jemariku semakin tak terarah. Namun, aku sedang menikmati suasan ini, yang sudah lama aku impikan semasa aku masih tinggal dengan orangtua di Jogja. Bisa dikatakan, aku masih menikmati kebebasan ini, tentunya kebebasan untuk mencoba menelurkan satu per satu impian yang dulu masih di-eram-i oleh keterbatasan.

Mungkin, ini sebuah prolog yang coba saya tuangkan. Semoga tidak hanya menjadi antusiasme sesaat, seperti pribadi sanguinis pada umumnya.

Malam pun semakin liar, namun jemariku tak ingin berhenti. Kubiarkan,